Perjalanan saya dimulai
salah satu rumah, tempat saya bersama Delapan orang mahasiswa di salah satu
perguruan tinggi Negeri di Makassar, UNM. Kedatangan kami di kota yang termashur
karena Kalong itu, tiada lain adalah menjalankan tri darma perguruan yang ketiga, yaitu pengabdian kepada masyarakat bersama dengan 83 mahasiswa
lainnya yang tersebar di 10 posko Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Awan manis di pagi Rabu rawit nampaknya tak
segalak Selasa kemarin. Di rumah yang hampir 90 persen bahan utamanya kayu ini. Setetes Cerita perjalanan dan Sejarah akan saya bagi. Namun, bukan dari bagian
tugas saya sebagai mahasiswa yang melaksanakan KKN di kabupaten tersebut.
Melainkan salah satu kesempatan berharga bagi saya untuk menginjakkan kaki di salah
satu tempat paling bersejarah, namun masih kurang terkenal sebagai sejarah oleh negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini.
Sejatinya, Desa Umpungeng adalah salah satu
desa yang terletak di kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng.
Jika Desa Iboih Ujung Ba’u Kecamatan
Sukakarya Sabang, bangga sebagai titik nol Kilometer Indonesia, serta Distrik
Sota di Merauke sebagai titik terjauh atau titik paling timur Indonesia memang sudah
tak asing lagi di mata masyarakat, bahkan ke dua wilayah ini telah menjadi satu
kesatuan yang kadang orang menyebutnya “Dari Sabang sampai Merauke”, takkalah sebuah
lagu “Dari Sabang sampai Merauke” di ciptakan oleh seniman bangsa R. Soerardjo
untuk kesatuan dua tempat ini. Kemudian di era pemerintahan BJ. Habibie, dibangun sebuah tugu di masing-masing tempat tersebut untuk menandai titik Barat dan Timur Indonesia (1997). Namun lain tempat lain cerita, kali ini adalah
sebuah Desa bernama Umpungeng. Jika di ibaratkan pada manusia, ujung rambut
menusua itu adalah Sabang dan ujung kakinya adalah Merauke, sehingga Pusarnya
mungkin bisa saya paradokskan adalah Desa Umpungeng.
Akhir-akhir ini nama Umpungeng, kian tersohor
dan banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, untuk melihat
salah satu situs Megalitikum bersejarah (Garugae)
yang diyakini sebagai Centre Point
of Indonesia, atau titik tengah atau nol derajat dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Dari Ibukota kabupaten Soppeng, bersama Pak
Ukkas, salah satu anggota kepolisian polres Soppeng, mengendarai mobil pribadinya
menekan gas bergeser ke arah selatan. Untuk sampai di Umpungeng, ada beberapa jalur
yang bisa ditempuh, salah satunya dengan masuk melalui kecamatan Marioriwawo
dan dilanjutkan dengan kendaraan bermotor menuju Desa Umpungeng. Juga, opsi lain
dengan masuk di desa Umpungeng tepatnya di dusun Jolle, dengan berjalan kaki sekitar
4 jam melewati pegunungan yang banyak ditumbuhi oleh pohon Aren dan Pinus.
Namun kali ini, saya bersama pak Ukkas yang juga
selaku Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) sedikit mengerucut ke arah barat sejauh 20 KM melewati kecamatan
Liliriaja dan Marioriwawo yang merupakan jalur opsi pertama. Setelah sampai di gerbang masuk Umpungeng, perjalanan nampaknya belum sepenuhnya berakhir, akan tetapi titik
star baru saja dimulai. Melanjutkan perjalanan menempuh jarak sekitar 17
kilometer melewati pegunungan dengan sebuah ojek trail. Hanya ada satu jalan yaitu merogoh
kocek sebanyak Rp100 untuk menyewa ojek. Ojek-ojek tersebut merupakan ojek
khusus, yang memang hanya melayani perjalanan ke dusun Umpungeng. Tak seperti
motor pada umumnya, motor jenis bebek yang digunakan Tersebut telah dimodifikasi layaknya motor trail.
Memulai perjalanan sebaiknya anda berdoa
terlebih dahulu, serta memakai perlengkapan yang aman seperti sepatu, jaket,
helm, topi dll. Berhubung perjalanan cukup menantang dengan jalanan bebatuan licin
ditambah jalur pendakian dan penurunan dengan kemiringan rata-rata 60 derajat. Selama perjalanan sesekali mata akan dimanjakan
dengan deretan pohon Pinus yang menjulang ke langit, membawa suasana sejuk
hutan Pinus sepi. Sesekali mata kita nyalang menyaksikan petani-petani yang
sibuk menyadap getah Pinus dengan irisan melingkar di batangnya. Patani getah
Pinus merupakan salah satu pekerjaan minoritas penduduk setempat. Hasil
olahan getah Pinus yang umum kita kenal adalah gondorukem dan minyak terpentin.
Minyak terpentin biasanya digunakan sebagai pelarut untuk mengencerkan cat
minyak, bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan
permukaan kayu. Aroma terpentin harum seperti minyak kayu putih, karena
keharumannya itu terpentin bisa digunakan untuk bahan pewangi lantai atau
pembunuh kuman yang biasa kita beli, tapi ada lagi kegunaan lain dari terpentin
sebagai bahan baku pembuat parfum, bahan campuran minyak pijat. Salah satu
bahan tambahan pembuatan permen karet sehinga menjadi kenyal dan lentur.
Gondorukem sebagai hasil dari olahan getah pinus dapat dimanfaatkan antara
lain, Industri Batik, Industri kertas, dan Industri sabun. Hutan Pinus di
Soppeng menjadi yang terluas ke Tujuh setelah Tanah Toraja, Bone, Sinjai dan
beberapa daerah lainnya di Sulawasi Selatan dengan luas 2.745 ha.
 |
| (Dusun Umpungeng Dari Kejauhan. Foto: Rijal 2016) |
Dan akhirnya Welcome to Centre Point of Indonesia. Perjalanan sepanjang 17 KM memakan
waktu kurang lebih Dua jam, berakhir dan dibayar tuntas dengan pemandangan nan indah
dari puncak gunung, gugusan lereng-lereng pegunungan memutari puncak Umpungeng
dipadu suhu dingin dan angin sejuk ”titik nol“ (begitu orang-orang menyebutnya) yang begitu bersahabat dan
memanjakan. Sebuah tumpukan batu-batu cadas yang
telah berwarna hitam seakan mewakili umurnya yang sudah ratusan tahun tinggi sekitar Tiga meter tersusun apik membentuk sebuah lingkaran tampak kokoh alami.
Di atasnya terdapat jejeran batu melingkar, kira-kira besarnya menyerupai drum.
Disalah satu sisinya terdapat sebuah batu tersusun menyerupai kursi yang di
yakini sebagai tempat duduk utama.
 |
| ( Kursi Pemimpin Rapat/ Raja. Foto: Rijal 2016) |
 |
| (Foto: Rijal 2016) |
Syahdan barulah di tengah-tengah lingkaran batu
tersebut terdapat batu yang timbul dari dasar tanah dengan diemeter sekitar 50
cm, diyakini sebagai (Posi’na Tanae)
dalam Bahasa Indonesia adalah pusar tanah. Yang tiada lain adalah titik tengah
atau titik nol derajat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Asal mula diketahuinya bahwa situs megalitikum
(Garugae-Red) di Desa Umpungeng, belakangan ini menurut cerita warga setempat
karena berkat adanya salah satu warga asli Umpungeng yang konon katanya telah bekerja disalah satu perusahaan di Jakarta, beliaulah kemudian mempromosikan
daerahnya dan belakangan mengukur dengan perhitungan titik koordinat, menemukan
bahwa keyakinan para leluhur masyarakat Umpungeng jika pusat tanah, dalam
artian pusat dari Indonesia tertanya betul. Setelah itu munculah beberapa
mahasiswa dari berbagai Universitas yang melakukan penelitian terkait hal tersebut dan membuktikan bahwa pusat atau titik tengah dari Indonesia adalah desa umpungeng
yang berada di Kabupaten Soppeng Sulawasi Selatan. Namun berbeda dengan tuguh kembar yang ada di sabang dan Merauke, di Umpungeng kita tidak akan menemukan tuguh apalagi tulisan dari keramik yang menyatakan titik nol derajat, kita hanya akan menemukan sebuah batu yang seakan muncul daru dasar tanah yang konon katanya, menurut cerita rakyat Umpungeng, Batu tersebut jika digali maka tidak akan pernah kita dapatkan dasarnya. Situs tersebut pun menjadi sangat disakralkan oleh masyarakat disana, tak salah bila pengunjung jika ingin melihat lebih dekat situs Garugae, maka harus melepas alas kaki, dan sangat di himbau untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar saat berada di kawasan tersebut. Dengan kesakralan tersebut menurut cerita, masyarakat menolak jika nantinya akan dibangun sebuah tugu besar, karena hanya akan merusak salah satu peninggalan leluhur mereka.
 |
| ( Batu yang dikenal sebagai Posi'na Tanae atau Pusar Tanah alias Titik Tengah Indonesia. Foto-Rijal 2016 ) |
Lanjut cerita, Kisah Garugae menurut hikayat masyarakat Umpungeng, “dahulunya merupakan
tempat pertemuan para raja-raja untuk mengadakan rapat. Dan cerita tersebut
kian melekat di msayarakat umpungeng hingga di kabarkan bahwa Arung Palakka
yang tidak lain adalah raja Bone pun pernah bersembunyi di sana ketika mendapat
serangan dari Belanda,” Terang salah seorang tokoh masyarakat disana.
Kemudian penelusuran saya kembali berlanjut,
kini saya mendapat keterangan lain lagi dari masyarakat Umpungeng yang saya
lupa namanya. Menurutnya, Desa ini dahulunya hanya di huni oleh beberapa orang
saja, yang satu rumpun. Namun lama kemudian telah banyak pendatang. Akan
tetapi, jaman kemerdekaan Republik Indonesia baru saja diraih, musibah melanda
masyarakat Umpungeng. Konflik antar masyarakat pada saau itu membuat daerah
tersebut sangat mencekam dengan banyaknya korban jiwa akibat perang saudara.
Sehingga semua masyarakat satu persatu meninggalkan daerah tersebut dan
mengungsi ke daerah lain. Akibatnya daerah ini menjadi tak berpenghuni selama
beberapa tahun hingga konflik kian meredah. Barulah pada tiga tahun berikutnya,
masyarakat suku asli umungeng kembali berbondong-bondong menghini daerah
tersebut, karena tuntutan lahan pekerjaanyang dulunya mereka tinggali. Dan
pendudu pun kian bertambah hingga saat sekarang ini dengan puluhan kepala
keluarga. Sejauh penglihatan saya, Dusun Umpungeng baru memiliki fasilitas
seperti Masjid, dan sebusah sekolah dasar. Untuk penerangan sendiri, masyarakat
disana hanya mengandalkan PLTA yang hanya berfungsi ketika musim penghujan
tiba.
Inilah sedikit kisah perjalanan saya menuju
Titik Tengang Indonesia yang ada di Dusun Umpungeng Desa Umpungeng Kabupaten
Soppeng, dengan setetes sejarah klasik daerah tersebut. Perjalanan saya kesana
tidaklah sendirian, namun ada ratusan orang yang juga berada di sana untuk
mengikuti ataupun menyaksikan sebuah acara Pelantikan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) oleh bupati baru yang menjabat sekarang.
Harapannya dengan banyaknya stuktur pemerintahan yang menginjakkan kaki dan merasakan
bagaimana susahnya perjalanan untuk sampai
disana, akan ada banyak kebijakan-kebijakan baru demi kesejahtaraan masyarakat
Umpungeng. Untuknya, marilah kita menjaga kesatuan bangsa ini, jangan biarkan
jatuh di tangan asing, karena setiap daerah di Indonesia itu unik, unik karena
punya sejarah dan budaya masing-masing. Itulah mengapa hanya di negeri ini yang
lain tempatnya lain juga ceritanya.
Bangga Lahir di Indonesia, Bangga jadi warga
Indonesia dan Bangga Punya Indonesia.