Sabtu, 31 Desember 2016

Dua Sisi Yang Berbeda


Dua sisi yang berbeda. Yang satu keras, kokoh dan warnanya hitam (Batu) yang satunya lembut, rapuh dan berwarna putih (Kabut), namun keduanya mampu bersatu menciptakan pemandangan indah dipandang.

Seperti itulah sejatinya dua insan yang berpasangan. tak ada yang merasa lebih karena keduanya sama-sama melengkapi sebaliknya tak ada yang kekurangan karena masing-masing punya keindahan.

Andai wanita bisa seperti kabut, dimana pun dia hinggap, keindahan dan kesejukan selalu  ia berikan. Tapi sayang kadang mereka pemilih.

Rabu, 02 November 2016

Mengapa Perlu Ketahanan Pangan?

Melalui seminar Hari Pangan Dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober dan Hari Air yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Katalis Indonesia, sebuah pengetahuan baru kemudian saya dapatkan yang seakan membuka cakrawala berpikir baru.

Diskusi Publik berlangsung selama Dua jam tersebut cukup menarik dengan konsep diskusi yang santai, dengan mengambil subtopik ‘Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan’.

Dangkal pengetahuan awal tentang ketahanan pangan, membuat saya bertanya-tanya,  Apa perlunya ketahanan pangan?

Saya pun Bagaikan mesin pencari google yang ditempatkan di jaringan wifi super kencang alias begitu bersemangat menemukan informasi baru. Betul juga, kala itu sebelum seminar dimulai saya terlebih dahulu membuka mesin pencari google, dan terbitlah sebuah artikel awal dari Wikipedia, menjelaskan ketahanan pangan merupakan ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya.
Kedua pemateri bergantian membahas dua pokok bahasan yaitu air dan pangan dalam makalah yang dibagikan kepada peserta diskusi kala itu. sesekali saya termenung, namun tak jarang menggelengkan kepala tatkala fenomena-fenomena negatif yang tidak kita sadari ternyata ada di dalam kehidupan sehari-hari.

Pemateri betul-betul mengupas secara umum kondisi ketahanan pangan di negeri ini mulai dari level nasional hingga skala pedesaan, hingga mengalir  ke dampak yang di timbulkan. Di situlah kemudian saya memahami perlunya usaha mempertahankan kebutuhan pangan, baik dalam skala rumah tangga hingga nasional. Meski kita melihat setiap harinya berbagai macam bahan makanan maupun produk olahan pangan tersedia di pasar-pasar tradisional dan supermarket, tapi ternyata masih perlu usaha ekstra untuk menjaga ketersedian.  Olehnya melalui sekitar beberapa tahun lalu dibentuklah Badan Ketahanan Pangan Republik Indonesia di bawah Kementrian Pertanian RI.
Setidaknya ada beberapa pesan yang saya dapat:

Pertama: kita semua harus tau, bumi ini pernah mengalami krisis pangan luar biasa besar, namun Indonesia bebas dari itu. karena kenapa? Karena Cuma di negara ini walau tidak ada si 4 sehat 5 sempurna, warga negara kita tetap bisa hidup sehat berkat adanya makanan-makanan tradisional yang gizinya cukup walau tidak masuk kedalam bahan pangan yang pokok. Seperti makanan khas bugis Kapurung, Barobbo atau bubur jagung dan ribuan makanan daerah lainnya.

Kedua: Produksi pangan tiap tahunnya rupanya mampu melebihi kebutuhan pangan 240 juta jiwa penduduk Indonesia. Namun, tahukah kita bahwa besarnya produksi pangan ini ternyata masih membuat negara kita harus merogoh devisa negara untuk impor beras dan pangan lainnya dari negara tetangga. Kenapa? Menurut pemateri  dari sekian banyak produksi pangan utamanya beras di Indonesia nyatanya tak sepenuhnya menjadi milik negara atau dibeli negara untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduknya, disinyalir ini terjadi karena sebagian besar produk pangan justru jatuh di tangan para pedagang lokal yang membeli dari petani dengan harga mahal, hal inilah kemudian menimbulkan kesenjangan ekonomi yang mengharuskan petani lebih memilih menjual hasil pertaniannya dari pada menjual ke pemerintah yang nyatanya membeli dengan harga murah.

Ketiga: Meski kita ketahui lahan produksi pangan luas, nyatanya sudah tidak demikian. Karena banyaknya alih fungsi lahan pertanian yang tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Jika dibiarkan lama-kelamaan negara ini akan semakin dimiskinkan oleh kegiatan impor pangan saja.

Keempat: Indonesia adalah negara maritim yang notabene memiliki hasil laut berupa ikan yang sangat berlimpah sebagai cadangan pangan terbesar kita.

Kelima: Katanya kita harus senantiasa belajar dan terus belajar, beranilah untuk tidak mencari kerja tapi berusaha membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Selasa, 01 November 2016

Menyaksikan Si Kabut-Kabut Putih

Jumat 28 Oktober 2016 sebuah perjalanan di Peringatan Hari Sumpah Pemuda kembali mengingatkan diriku pada kerinduan tanah kelahiran. Tak sendiri, kali ini terasa berbeda dengan edisi sebelum-sebelumnya, berkat kehadiran dua teman yang sudah sedari dulu selalu ingin menginjakkan kakinya di Bumi Panrita Kitta, Kabupaten Sinjai.

Tepat jam 14:00 WITA, tiga motor Jenis Bebek berjalan menembus hujan menuju arah Kabupaten Gowa. Perjalanan pulang kali ini saya memilih jalur Malino untuk tembus ke Sinjai.

Perlahan hujan yang mengguyur perjalanan kami seakan memperbesar frekwensinya, alhasil kami pun tak dapat menambah tarikan gas namun mengencangkan balutan jas hujan di tubuh.

Satu jam lebih berlalu, kami sampai di Objek Wisata Hutan Pinus Malino, cuaca berbeda kami rasakan karena hujan telah reda. Yang ada adalah paparan sinar matahari, tapi tak mampu mengalahkan suhu dingin dan kesejukan hutan Pinus di area tersebut.

Rehat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini melewati lembah menanjak dengan sisi jalan bertepikan pohon-pohon Pinus yang lebat, setelahnya pemukiman penduduk yang sudah meramai. Para petani sayur berjalan beriringan, entah itu beranjak ke kebun ataukah kembali dari kebunnya. Juga terdapat banyak mobil-mobil yang sudah penuh karung-karung. Disinilah asal bahan-bahan sayuran yang kemudian di jual keberbagai daerah yang ada di Sulawasi Selatan, terlihat banyaknya lahan yang mirip area persawahan, namun yang di tanam adalah jenis sawi, kol, tomat, aneka bawang dan juga buah-buahan.

Lanjut cerita, jalur Gowa-Sinjai ini kian mendapat perhatian pemerintah di kedua wilayah tersebut, salah satunya perbaikan jalur yang relatif pendek di daerah perbatasan kedua daerah. Perjalanan kami pun semakin dipersingkat dengan adanya jalur alternatif ini.

Di tengah perjalanan, sesekali mata ini tak sanggup berkedip menyaksikan dari kejauhan gumpalan kabut berwarna putih perlahan menyelimuti pepohonan dan tampak menutupi rumah-rumah penduduk. Rasanya ingin segera menghampirinya. Dalam benak Sungguh Indah dan sepatutnya rasa syukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa.

Tak lama kemudian jarak pandang kedepan menjadi kabur, perlahan semakin kabur. Hanya kisaran 3-5 meter saja. Melihatnya begitu halus, warnanya putih, dan tak ada kepulan pekat seperti asap biasanya.

Suhu dingin yang diberikan seakan menyentuh kehidupan-kehidupan di dalamnya. pepohonan, burung-burung, hingga rerumputan seakan semuanya merasakan kesejukan yang di berikan Si kabut-kabut putih. begitu aku menyebutnya.

Kejadian seperti ini biasanya tak berlangsung lama, hanya hitungan menit kabut-kabut putih itu mulai beranjak naik atau bergeser oleh hembusan angin. Namun kami tak mau melewatkan momen ini, sesekali kami berhenti untuk mengambil potret.



Berfoto bersama atau hanya mengambil gambar pemandangan saja berulang kali kami lakukan. 5-10 jepretan rasanya tak cukup untuk momen menarik itu. kami pun melepas kelengkapan berkendara seperti jaket dan helm untuk sejenak menyaksikan si kabut-kabut putih datang dan pergi menutupi lereng-lereng pegunungan. Pemandangan indah ini rupanya juga membuat pemudik-pemudik lainnya yang juga satu tujuan ikut rehat sejenak, sembari menikmati kesejukan.

Tak hanya itu, jika musim penghujan tiba. Jalur ini juga memiliki banyak air terjun di pinggir jalan yang juga tak kalah indahnya. Tetapi biasanya air yang jatuh dari tebing-tebing tersebut baru akan deras dan besar selepas hujan.


Tak lama, perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat, tepatnya di Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai. Tanah yang selalu mengingatkan kerinduan kepada para perantau-perantau yang lahir di atasnya.

Minggu, 23 Oktober 2016

Jangan Menolak

Bapak BUMN ke-7 Indonesia, Dahlan Iskan, punya kata bijak. "Habiskan jatah gagalmu selagi kamu masih muda."karena tiap manusia punya jatah gagal.

Maka si penulis pun punya kata-kata yang hampir serupa.

"Jangan terlalu sering menolak sesuatu, karena manusia punya kuota untuk menolak." Jika telah habis kuotamu, kamu pun tak akan dapat lagi giliran menolak, bahkan yang akan di tolak pun sudah tidak datang lagi.

Silahkan di terjemahkan sendiri, karena antara penulis dan pembaca punya devenisi dan cara penafsiran tersendiri. Hal ini bisa berlaku pada rejeki dan jodoh. Misalkan, seseorang memberimu uang namun kamu tolak, atau seseorang melamar kamu tapi di tolak jg. Itu Cuma perumpama, yang jelas jangan keseringan menolak selagi itu baik dan halal.

Senin, 10 Oktober 2016

Bilic di Awal Gerak Roda Lokomotifnya


Biology Literation Community (BILIC) merupakan Komunitas yang bergerak di bidang literasi  yang berada di bawah naungan jurusan biologi, dengan tujuan sebagai penyedia buku bacaan dan informasi bagi warga biologi. Di mulai pada tanggal 29 Maret 2014 berdasarkan keputusan dari semua ketua tingkat di jurusan Biologi angkatan 2013 di bawah bimbingan bidang V Himabio, Bidang Advokasi, sepakat membentuk sebuah wadah baru bagi warga biologi untuk menyalurkan kreativitas mereka dibidang literasi, yang diberi nama Taman Baca Biologi (TBB).

Dengan menggagas kegiatan taman baca seminggu sekali. Lalu di tanggal 25 Juni 2014 melalui beberapa pertimbangan dari pengurus sementara dan bidang V Himpunan Mahasiswa Biologi (Himabio) FMIPA UNM, Taman Baca Biologi berubah nama menjadi Biology Literation Community di singkat BILIC. Hal ini merupakan nama usulan dari salah satu pengurus sementara kala itu, Murni. Hal ini di maksudkan agar kegiatan ini betul-betul menjadi suatu komunitas yang lebih mengarah pada bidang lieterasi.

Sejarah barupun lahir di tengah-terngah civitas akademika Biologi, dengan terbentuknya suatu komunitas yang bergerak di bidang literasi, sangat diharapkan mampu menjadi lokomotif penggerak budaya baca, sebagai bagian dari revolusi mental yang kian di gebu-gebukan.
Kominitas ini mulai memutar roda lokomotifnya dengan melakukan berbagai kajian dengan mendatangkan pemetari-pemateri dari ruang lingkup biologi maupun dari luar kampus. Di bawah bimbingan bidang V Himabio setelah beberapa hari berjalan mulailah di struktur kepengurusan di rapat akbar kepengurusan di kantin FMIPA, dengan menetapkan Ahmad Setiawan Jarigau (Biologi ICP 2013) sebagai ketua umum kala itu, serta di bantu Suhardani Taufiq (Biologi Sains 2013) sebagai sekretaris, Hilmiah (Biologi Sains 2013) sebagai bendahara.

Lalu dibentuk tiga devisi, yaitu kajian yang di isi oleh: Anta Faizin, Rijal Ashari, Dwi Haevawanti, dan Andi Dita Tawakkal Gau, serta Devisi Karya Cipta oleh: Murni, Miswar, Lily Setiawati, Hasriana, dan Devisi Wisata Literasi oleh Abdul Jalil, Mauliani, dan Nur Alvia. sementara yang mengisi bagian IT adalah Nur Asma
Di awal kerja sebagai wadah baru di biologi lantas tak membuat segalahnya berjalan sesuai harapan. Karena mendirikan sebuah komunitas rupanya tak semuda menjalankan komunitas yang sudah ada sebelumnya. Setelah tiga bulan berjalan mulailah beberapa program kerja yang terlaksana yaitu Quote of the week, pengadaan buku Binomial nomenclature untuk mahasiswa baru, aktif mengikuti wisata literasi dan mengadakan kajian dengan pemateri yang handal di bidangnya.

Namun lagi-lagi semangat literasi yang di miliki oleh para pengurus perlahan mulai luruh, dikarenakan berbagai alasan seperti banyaknya tugas kuliah dan kegiatan di jurusan Biologi yang mengharuskan mereka harus aktif didalamnya. rapat pun beberapa kali di lakukan namun hasil tetap sama karena masi abu-abunya teman-teman pengurus untuk membesarkan komunitas ini.

Pada tanggal 20 Oktober 2014 kegiatan basar tahunan di jurusan Biologi dilaksanakan yaitu Biology Open Day (BODY). Dan kesempatan besar pun diambil dengan bekerja sama dengan salah satu badan penerbit, Mizan untuk mengadakan bazar buku dan taman baca. Ternyata respon pengunjung body Kala itu sangat bagus dengan adanya kegiatan yang mereka lakukan, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang di stand, membeli bukumaupun sekedar membaca buku.

Tanggal 23 Oktober di tahun yang sama pengurus kembali mengadakan rapat evaluasi, sekaligus pemantapan program kerja dengan tujuan-tujuan yang jelas pada setiap keputusannya, lalu setelahnya mulailah rapat pembentukan logo komunitas pada bula Juni 2014 dan di pilihlah logo usulan saudara Miswar untuk logo Bilic hingga sekarang.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Tulislah Skenario Mimpimu

( Ilustrasi. Foto: Int)
Kata bijak mengatakan, “Jika harapan seluas mata memandang, maka tekad dan usaha haruslah seluas jagat raya”. Namun tahukah kita apa sebenarnya harapan itu dan apa bedanya dengan mimpi. Mari kita kupas secara singkat.

Beberapa pengertian menerjemahkan bahwa mimpi adalah suatu harapan atau angan yang biasa terjadi pada saat kita tertidur dalam arti tidak sadar, juga banyak menyebutnya bunga tidur. Sedangkan harapan itu adalah suatu angan kita secara sadar.

Setiap manusia yang lahir di bumi pasti memiliki mimpi atau harapan yang ingin dicapai, begitupula dengan saya. Mimpi itu biasanya di tulis ataupun cuma ada dalam imajinasi. Namun kita pasti mengetahui jika ingin meraih apa yang kita harapkan tersebut tidaklah selalu mudah, melainkan ada proses yang kadangkalah seperti jalanan yang menanjak ada pula yang seperti jalur pendek dengan penurunan.

Namun sebagai umat Islam haruslah kita percaya pada Al-qur'an dan hadis yang jelas menerangkan, tidak ada hal yang sulit selagi umat itu mau berusaha dan setelah berusaha mereka kembalikan lagi kepada tuhan pencipta, tempat bergantungnya segala mahluk di bumi dan  penentu segalanya.

Saya menulis bukanlah karena pintar atau pun sesuatu yang besar pernah terjadi dalam hidup saya, melainkan saya adalah pemimpi, kita adalah sang pemimpi, dan pencari harapan.

Memang cita-cita, mimpi-mimpi atau harapan semuanya tidaklah mudah, namun  kesemua itu tidak akan dibatasi oleh waktu dan jarak. Artinya jika berusaha pastilah kita akan mendapatkan entah di waktu cepat atau lambat serta biasa di tempat mana saja. Jikalau pun di dunia kita tidak dapatkan maka tuhan juga telah menjanjikan kita akhirat, toh hidup di dunia itu cuma sementara dan akhirat selamanya.

Betul kata pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”, karena jika cita-cita hanya setinggi langit-langit maka kita mungkin cukup memanjat dinding, cita-cita itupun sudah bisa diraih. Olehnya jika menggantungkannya di langit maka seperti yang saya katakan sebelumnya, jika harapan sejauh mata memandang hingga jauh di langit ke Tujuh maka tekad dan usaha haruslah seluas jagad raya. Artinya jika cita-citamu setinggi langit maka kerja dan motivasi harus lebih keras.

Setiap manusia pasti punya cita-cita atau mimpi terbesar yang harus di wujudkan, yang tentunya tak cuma sekedar ada dalam khayalan. Tapi untuk mendapatkannya ada proses yang harus terealisasikan, proses yang kita lihat, kita raba serta kita rasakan pahit dan manisnya.

Beberapa orang biasanya menuliskan mimpi-mimpinya.Dan tahuka kita, sebahagian orang-orang sukses rupanya menulis mimpi mereka di sebuah buku, mereka mengurutkan mimpi-mimpi itu mulai dari yang pertama ingin mereka capai hingga yang paling besar dalam kehidupan mereka. Sebuah artikel menjelaskan. Jika kita menulis mimpi kita, sebenarnya kita telah membuat perencanaan atau skenario awal untuk apa yang kita ingin capai. Tanpa  kita sadari apa yang di tulis tersebut akan menjadi tugas hidup, sehingga menjadi amanah tersendiri dalam hidup kita. Itu akan sangat memotivasi untuk segera action mencentang mimpi-mimpi itu.

Iwel Sastra dalam bukunya Motivaction, mengibaratkan skenario mimpi yang di tulis layaknya skenario film yang akan dimainkan. Dia menjelaskan bahwa ruh dari sebuah film ada pada skenarionya. Jadi seorang sutradara bebas menulis skenario cerita tanpa batasan. Itulah kekuatan skenario, kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan. Kitapun juga bias menjadi seorang sutradara atau penulis skenario dalam hidup kita, utamanya dalam mimpi-mimpi kita. Tetapi dalam mimpi yang kita tulis, kita adalah pemain, sutradara juga sekaligus produsernya.


Seperti itulah mimpi dan harapan, kita bisa berkhayal seluas mata memandang. Maka tulislah mimpi-mimpimu, karena secara tidak sadar itu adalah bagian dari doa, lebih tepatnya doa yang tertulis. Bukankah manusia adalah perencana tuhan sang penentu? 

Senin, 03 Oktober 2016

Biology Open Day (BODY).What is that?

(Pembukaan Body 2015)
Biology Open Day (BODY) merupakan program kerja tahunan dari Himpunan Mahasiswa Biologi (Himabio) Universitas Negeri Makassar (UNM), yang bergerak di bidang olimpiade Biologi dan Sains. Mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga ditingkat Universitas.

Kegiata ini terlaksana sebagai wujud kepedulian terhadap dunia pendidikan dan untuk membuka atau memperkenalkan jurusan biologi kepada masyarakat umum dalam bentuk lomba, pameran serta pelatihan, menjadi latar belakang terlaksananya kegiatan tersebut.

Kegiatan Biology Open Day biasanya dilaksanakan antara bulan September dan Oktober, yang bertempat di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNM.

Ketua jurusan Biologi FMIPA UNM, Musawwir Taiyyeb menjelaskan bahwa BODY pada awal pelaksanaanya bernama Biology Fair di tahun 1992, hingga berganti nama sekitar tahun 2002 menjadi Biology Open Day sampai sekarang.

Biology Fair kala itu hanya berisikan lomba cerdas cermat SD, SMP, SMA dan pameran pendidikan, namun seiring dengan perubahan nama menjadi BODY, paket lombanya bertambah, beberapa diantaranya Bio-Recycle, Story Talling, English debate, KTI, Journalist competition, Kesenian serta banyak lainnya. 

Lanjutnya, beliau menambahkan bahwa Tujuan BODY bisa dilihat dari makna kata Body yang merupakan tubuh, sehingga ada suatu hari dimana jurusan Biologi membuka diri terhadap masyarakat luas, kemudian bagaimana masyarakat dapat melihat kegiatan di jurusan Biologi, "Bagi orang tua mahasiswa bisa melihat seperti inilah Biologi, bisa kenal dosennya, dan tahu tempatnya,"Lanjutnya.

Untuk kata BODY sendiri, Dosen ahli gizi tersebut mengungkapkan, pertama kali tertarik dengan kata BODY ketika mengikuti kegiatan yang mengambil nama Open Day di La Trobe University Australia. "Saya pernah ikut kegiatannya namanya Open Day, yang merupakan kegiatan seni, olahraga, yang dilaksanakan oleh mahasiswa, dari situ saya coba mengusulkan ke pengurus himpunan untuk menganti nama Biology Fair dengan Biology Open Day sampai sekarang," Tambahnya.

(Ramainya suasana pembukaan 2015)
Sejak berganti nama 15 tahun silam, Kegiatana tahunan ini selalu mengalami peningkatan dari tiap pelaksanannnya, terbukti dari bertambahnya paket lomba serta animo peserta yang selalu mengalami peningkatan. Pada pegelaran BODY di tahun 2015 lalu, pesertanya mencapain Seribu pendaftar yang berasal dari sekolah-sekolah se Sulselbar. Untuk tema kegiatan,panitia pelaksana yang juga tak lain adalah mahasiswa aktif di jurusan biologi selalu menyuguhkan konsep kegiatan yang berbeda ditiap pelaksanaanya. 
Sehingga tak hanya berfokus pada kegiatan olimpiade, panitia pun menyiapkan berbagai stand atau booth menarik yang memanjaakan pesertanya, seperti stand berbagai komunitas kreatif,  pendidikan, sains, aneka jajanan serta tak ketinggalan stand dari sponsor kegiatan. Untuk kedepannya kegiatan ini diharapkan dosen-dosen di biologi dapat memamerkan karyanya, bukan hanya mahasiswa. Terutama di bidang penelitian.

Dan kini Biology Open Day kembali akan di helat tanggal 19-23 Oktober 2016 
Untuk info pendaftaran silahkan buka: http://himabiofmipaunm.org/



Sabtu, 01 Oktober 2016

Budaya Kekinian vs Budaya Leluhur

( Budaya. Foto: Int)
Perkembangan di Era global saat sekarang nampaknya tak hanya di gebu-gebukan oleh perkemangan Sains dan Teknologi. Namun, hampir seluruh aspek kehidupan lainnya turut andil, berlomba-lomba menuju barisan depan, terlebih sejak era pasar bebas kian diterapkan berbagai belahan dunia. Salah satunya tren Fashion, fashion saat sekarang ini telah menjadi telah menjadui budaya massal oleh para penggila di zaman serba modern ini. Bukan lagi hal yang tabu, apalagi menjadi rahasia umum. Tren Fashion sekarang menjadi milik semua orang, semua orang bebas mengekspresikan diri dan jiwanya lewat tren Fashion perlu takut terjerat pasal.

Di awal abad 21 sekarang ini. Berbagai istilah pun bermunculan untuk mendukung laju perkembangan bebas tersebut. Di Indonesia sendiri munculah kata-kata “Kekinian”. Kata-kata demikian kian populer saat sejumlah kaum muda menggunakannnya untuk mewakili keadaan yang baru dialami atau digunakan. Jika di dilihat lebih dalam di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kekinian berasal dari induk kata ´kini´ yang berarti pada waktu ini, kemudian mendapat imbuhan (ke-) dan (-an) menjadi kekinian yang berarti keadaan kini atau sekarang. Olehnya jika di hubungkan dengan prilaku manusia berarti tren kekinian adalah keadaan yang mengikuti perubahan jaman. Baik dari segi fashion, teknologi maupun kebiasan sehari-hari.

Menurut data yang di himpun oleh Unicef dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi, memperlihatkan bahwa dari 75 juta pengguna internet di Indonesia tak kurang dari 30 Juta diantaranya adalah pengguna remaja, itu berarti hamper setengahnya komsumsi internet di kuasai oleh kaum tersebut.
Ini memberi gambaran bahwa salah satu pemicu utama berkembangya tren kekiniann adalah dengan adanya akses internet. Namun juga pengaruh media peetelevisian tak juga dapat di kesampingkan.

Bebasnya akses untuk melihat dunia luar, tentu bukan lagi hal yang jamak jika akan ada dampak negative yang ditimbulkan. Nampaknya budaya kekinia rupanya sejalan dengan perkembangan informasi Yang sangat cepat. Olehnya tak bias di pungkiri, budaya barat atau asing sangat cepat merambah di kalangan pengguna internet di Indonesia, sebagai negara dengan penganut muslim terbesar di dunia, tentunya budaya barat ini tak sejalan dengan harapan segenap bangsa. Namun apa daya kecanggihan internet nampaknya membunuh harapan itu. bahkan di Indonesia ini telah banyak ketakutan terhadap budaya Westernisasi, atau bentuk pemujaan terhadap budaya baratyang berlebihan

Seperti yang saya kutip dari salah satu ceramah seorang ustas mengatakan, “pakaian generasi mudah seakarang ini semakin memprihatinkan, kain baju yang menutupi bagian tubuh atas semakin turun, sedangkan yang menutupi bagian tubuh paling bawah semakin di naikkan”. Memang tidak salah tetapi mungkin itu hanya berlaku bagi kaum perempuan. Untuk laki-laki sendiri, saya pernah membaca sebuah artikel, bahwa saat sekarang ini nampaknya kaum laki-laki tak banyak mengalami perubahan dalam penampilannya. Masi dengan gaya rambut yang rapi, apalagi semenjak mewabahnya tren barber Shop, yang semakin memanjakan penampilan rambut para kaum lelaki menjadi tampak rapi  dan elegant.

Anehnya, di kalangan beberapa golongan masyarakat, justru jika tidak mengikuti tren fashion yang kebanyakan berkiblat ke barat, malah di sebut ketinggalan jaman dan dan tidak mengikuti berkembangan zaman. Nah inilah paham yang menurut saya salah, “jika harus berkembang masa kita harus mengikuti gaya barat, sementara perkembangan dunia dan teknologi tidak hanya berkembang di barat, di Indonesia pun juga turut berkembang. Jadi so….? What is your choice.”
Setiap promosi iklan pariwisata, selalu digebu-gebukan istilah “Indonesia Kaya Akan Budayanya”. Iya memang benar adanya

Setidaknya lebih dari 20 puluh suku di Indonesia serta lebih dari 100 kebudaya yang terbentang dari sabang sampai Merauke. Tetapi yang menjadi permasalahan dan sangat disayangkan, seiring dengan perkembangya zaman, banyak budaya mulai dilupakan. Banyak dari warga Indonesia yang menurut dirinya hidup di zaman modern tak lagi mengenal budayanya. Sehingga tak di pungkiri jika banyak budaya kita di curi oleh negara lain, utamanya negara-negara tetangga.

Sementara di lain sisi, kasus yang kontroversial pun terjadi ketika salah satu rombongan Jamaah Haji dari salah satu kabupaten di Sulawasi Selatan, Kabupaten Sidenreng Rappang, merayakan kepulangannya dari Baitullah dengan mengenakan pakaian yang menurut sebagian orang adalah sesuatu yang lucu dan bahkan menjadi bahan cemohan dan tawaan bagi para netizen. Hal ini kemudian sangat menjadi Viral ketika banyak media memberitakan hal tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pakaian tersebut jika di hubungkan dengan tuntutan berpakaian yang islami, pakaiannya tertutup dan juga telah menjadi budaya leluhur atau chiri khas daerah tersebut. Ini adalah persoalan budaya dan tradisi, bukanka dengan menghargai budaya bangsa itu akan semakin maju?

Syahdan pakaian tersebut memang telah disiapkan sebelum pemberangkatan ke tanah suci, namun baru akan dikenakan setelah tiba kembali di tanah air. Pakaian yang mereka kenakan merupakan salah satu chiri pakaian adatb Bugis yang biasa di sebut talulung dan Sarampa.

Tamu-tamu mulia Allah ini saya rasa tak punya niat lain kecuali hanya untuk meluapkan kegembiraan mereka selepas berhaji dan kembali selamat ke tanah air. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, di saat mereka menyambut kegembiraan itu, justru kekejaman social media yang membebaskan untuk berkomentar apapun, justru mengakimi mereka dengan cemohan. “Terlalu berlebihan, Ledasyeng…elo maneng yaseng.. pake maneng ulawemmu..norak…” komentar salah satu netizen yang mengomentari dalam bahasa Bugis yang menurutnya hanya ingin pamer dan norak. Komentar lain juga mengatakan itu hanya seperti orang gila, “gilani koyok opo aenotak bgt kayak wong edan ayarang   bukane cantic mlh kyk orang gila,” kata Netizen lain. Namuntaka sedikit yang membelah seperti komentar ini, “Tdk baik menghina seperti itu. mereka2 hanya ikut tradisi aja turun temurun. Tugas andalah yang mengerti dan menjelaskan tuntunan sebenarnya.”

Jika nilai budaya saja telah di celah maka kemana lagi bangsa ini mencari kekayaan kedepannya, jika budaya sudah ditinggalkan maka siapa lagi yang akan membuktikan jika negara ini adalah kaya dengan budayanya. Pantaslah budaya kita seringkali di klaim negara lain karena pengahargaan di negara sendiri sudah berkurang.


Rabu, 28 September 2016

Setetes Cerita Dari Centre Point of Indonesia





Perjalanan saya dimulai salah satu rumah, tempat saya bersama Delapan orang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Negeri di Makassar, UNM. Kedatangan kami di kota yang termashur karena Kalong itu, tiada lain adalah menjalankan tri darma perguruan yang ketiga, yaitu pengabdian kepada masyarakat bersama dengan 83 mahasiswa lainnya yang tersebar di 10 posko Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Awan manis di pagi Rabu rawit nampaknya tak segalak Selasa kemarin. Di rumah yang hampir 90 persen bahan utamanya kayu ini. Setetes Cerita perjalanan dan Sejarah akan saya bagi. Namun, bukan dari bagian tugas saya sebagai mahasiswa yang melaksanakan KKN di kabupaten tersebut. Melainkan salah satu kesempatan berharga bagi saya untuk menginjakkan kaki di salah satu tempat paling bersejarah, namun masih kurang terkenal sebagai sejarah oleh negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini.

Sejatinya, Desa Umpungeng adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng.

Jika Desa Iboih Ujung Ba’u Kecamatan Sukakarya Sabang, bangga sebagai titik nol Kilometer Indonesia, serta Distrik Sota di Merauke sebagai titik terjauh atau titik paling timur Indonesia memang sudah tak asing lagi di mata masyarakat, bahkan ke dua wilayah ini telah menjadi satu kesatuan yang kadang orang menyebutnya “Dari Sabang sampai Merauke”, takkalah sebuah lagu “Dari Sabang sampai Merauke” di ciptakan oleh seniman bangsa R. Soerardjo untuk kesatuan dua tempat ini. Kemudian di era pemerintahan BJ. Habibie, dibangun sebuah tugu di masing-masing tempat tersebut untuk menandai titik Barat dan Timur Indonesia (1997). Namun lain tempat lain cerita, kali ini adalah sebuah Desa bernama Umpungeng. Jika di ibaratkan pada manusia, ujung rambut menusua itu adalah Sabang dan ujung kakinya adalah Merauke, sehingga Pusarnya mungkin bisa saya paradokskan  adalah Desa Umpungeng.

Akhir-akhir ini nama Umpungeng, kian tersohor dan banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, untuk melihat salah satu situs Megalitikum bersejarah (Garugae) yang diyakini sebagai Centre Point of Indonesia, atau titik tengah atau nol derajat dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dari Ibukota kabupaten Soppeng, bersama Pak Ukkas, salah satu anggota kepolisian polres Soppeng, mengendarai mobil pribadinya menekan gas bergeser ke arah selatan. Untuk sampai di Umpungeng, ada beberapa jalur yang bisa ditempuh, salah satunya dengan masuk melalui kecamatan Marioriwawo dan dilanjutkan dengan kendaraan bermotor menuju Desa Umpungeng. Juga, opsi lain dengan masuk di desa Umpungeng tepatnya di dusun Jolle, dengan berjalan kaki sekitar 4 jam melewati pegunungan yang banyak ditumbuhi oleh pohon Aren dan Pinus.

Namun kali ini, saya bersama pak Ukkas yang juga selaku Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) sedikit mengerucut ke arah barat sejauh 20 KM melewati kecamatan Liliriaja dan Marioriwawo yang merupakan jalur opsi pertama. Setelah sampai di gerbang masuk Umpungeng, perjalanan nampaknya belum sepenuhnya berakhir, akan tetapi titik star baru saja dimulai. Melanjutkan perjalanan menempuh jarak sekitar 17 kilometer melewati pegunungan dengan sebuah ojek trail. Hanya ada satu jalan yaitu merogoh kocek sebanyak Rp100 untuk menyewa ojek. Ojek-ojek tersebut merupakan ojek khusus, yang memang hanya melayani perjalanan ke dusun Umpungeng. Tak seperti motor pada umumnya, motor jenis bebek yang digunakan Tersebut telah dimodifikasi layaknya motor trail.

Memulai perjalanan sebaiknya anda berdoa terlebih dahulu, serta memakai perlengkapan yang aman seperti sepatu, jaket, helm, topi dll. Berhubung perjalanan  cukup menantang dengan jalanan bebatuan licin ditambah jalur pendakian dan penurunan dengan kemiringan rata-rata 60 derajat. Selama perjalanan sesekali mata akan dimanjakan dengan deretan pohon Pinus yang menjulang ke langit, membawa suasana sejuk hutan Pinus sepi. Sesekali mata kita nyalang menyaksikan petani-petani yang sibuk menyadap getah Pinus dengan irisan melingkar di batangnya. Patani getah Pinus merupakan salah satu pekerjaan minoritas penduduk setempat. Hasil olahan getah Pinus yang umum kita kenal adalah gondorukem dan minyak terpentin. Minyak terpentin biasanya digunakan sebagai pelarut untuk mengencerkan cat minyak, bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu. Aroma terpentin harum seperti minyak kayu putih, karena keharumannya itu terpentin bisa digunakan untuk bahan pewangi lantai atau pembunuh kuman yang biasa kita beli, tapi ada lagi kegunaan lain dari terpentin sebagai bahan baku pembuat parfum, bahan campuran minyak pijat. Salah satu bahan tambahan pembuatan permen karet sehinga menjadi kenyal dan lentur. Gondorukem sebagai hasil dari olahan getah pinus dapat dimanfaatkan antara lain, Industri Batik, Industri kertas, dan Industri sabun. Hutan Pinus di Soppeng menjadi yang terluas ke Tujuh setelah Tanah Toraja, Bone, Sinjai dan beberapa daerah lainnya di Sulawasi Selatan dengan luas 2.745 ha.


(Dusun Umpungeng Dari Kejauhan. Foto: Rijal 2016)
Dan akhirnya Welcome to Centre Point of Indonesia. Perjalanan sepanjang 17 KM memakan waktu kurang lebih Dua jam, berakhir dan dibayar tuntas dengan pemandangan nan indah dari puncak gunung, gugusan lereng-lereng pegunungan memutari puncak Umpungeng dipadu suhu dingin dan angin sejuk ”titik nol“ (begitu orang-orang menyebutnya) yang begitu bersahabat dan memanjakan. Sebuah tumpukan batu-batu cadas yang telah berwarna hitam seakan mewakili umurnya yang sudah ratusan tahun tinggi sekitar Tiga meter tersusun apik membentuk sebuah lingkaran tampak kokoh alami. Di atasnya terdapat jejeran batu melingkar, kira-kira besarnya menyerupai drum. Disalah satu sisinya terdapat sebuah batu tersusun menyerupai kursi yang di yakini sebagai tempat duduk utama.
( Kursi Pemimpin Rapat/ Raja. Foto: Rijal 2016)

(Foto: Rijal 2016)
Syahdan barulah di tengah-tengah lingkaran batu tersebut terdapat batu yang timbul dari dasar tanah dengan diemeter sekitar 50 cm, diyakini sebagai (Posi’na Tanae) dalam Bahasa Indonesia adalah pusar tanah. Yang tiada lain adalah titik tengah atau titik nol derajat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Asal mula diketahuinya bahwa situs megalitikum (Garugae-Red) di Desa Umpungeng, belakangan ini menurut cerita warga setempat karena berkat adanya salah satu warga asli Umpungeng yang konon katanya telah bekerja disalah satu perusahaan di Jakarta, beliaulah kemudian mempromosikan daerahnya dan belakangan mengukur dengan perhitungan titik koordinat, menemukan bahwa keyakinan para leluhur masyarakat Umpungeng jika pusat tanah, dalam artian pusat dari Indonesia tertanya betul. Setelah itu munculah beberapa mahasiswa dari berbagai Universitas yang melakukan penelitian terkait hal tersebut dan membuktikan bahwa pusat atau titik tengah dari Indonesia adalah desa umpungeng yang berada di Kabupaten Soppeng Sulawasi Selatan. Namun berbeda dengan tuguh kembar yang ada di sabang dan Merauke, di Umpungeng kita tidak akan menemukan tuguh apalagi tulisan dari keramik yang menyatakan titik nol derajat, kita hanya akan menemukan sebuah batu yang seakan muncul daru dasar tanah yang konon katanya, menurut cerita rakyat Umpungeng, Batu tersebut jika digali maka tidak akan pernah kita dapatkan dasarnya. Situs tersebut pun menjadi sangat disakralkan oleh masyarakat disana, tak salah bila pengunjung jika ingin melihat lebih dekat situs Garugae,  maka harus melepas alas kaki, dan sangat di himbau untuk tidak mengucapkan kata-kata kasar saat berada di kawasan tersebut. Dengan kesakralan tersebut menurut cerita, masyarakat menolak jika nantinya akan dibangun sebuah tugu besar, karena hanya akan merusak salah satu peninggalan leluhur mereka.
    
     

     
( Batu yang dikenal sebagai Posi'na Tanae atau Pusar Tanah alias Titik Tengah Indonesia. Foto-Rijal 2016 )
Lanjut cerita, Kisah Garugae menurut hikayat masyarakat Umpungeng, “dahulunya merupakan tempat pertemuan para raja-raja untuk mengadakan rapat. Dan cerita tersebut kian melekat di msayarakat umpungeng hingga di kabarkan bahwa Arung Palakka yang tidak lain adalah raja Bone pun pernah bersembunyi di sana ketika mendapat serangan dari Belanda,” Terang salah seorang tokoh masyarakat disana.

Kemudian penelusuran saya kembali berlanjut, kini saya mendapat keterangan lain lagi dari masyarakat Umpungeng yang saya lupa namanya. Menurutnya, Desa ini dahulunya hanya di huni oleh beberapa orang saja, yang satu rumpun. Namun lama kemudian telah banyak pendatang. Akan tetapi, jaman kemerdekaan Republik Indonesia baru saja diraih, musibah melanda masyarakat Umpungeng. Konflik antar masyarakat pada saau itu membuat daerah tersebut sangat mencekam dengan banyaknya korban jiwa akibat perang saudara. Sehingga semua masyarakat satu persatu meninggalkan daerah tersebut dan mengungsi ke daerah lain. Akibatnya daerah ini menjadi tak berpenghuni selama beberapa tahun hingga konflik kian meredah. Barulah pada tiga tahun berikutnya, masyarakat suku asli umungeng kembali berbondong-bondong menghini daerah tersebut, karena tuntutan lahan pekerjaanyang dulunya mereka tinggali. Dan pendudu pun kian bertambah hingga saat sekarang ini dengan puluhan kepala keluarga. Sejauh penglihatan saya, Dusun Umpungeng baru memiliki fasilitas seperti Masjid, dan sebusah sekolah dasar. Untuk penerangan sendiri, masyarakat disana hanya mengandalkan PLTA yang hanya berfungsi ketika musim penghujan tiba.

Inilah sedikit kisah perjalanan saya menuju Titik Tengang Indonesia yang ada di Dusun Umpungeng Desa Umpungeng Kabupaten Soppeng, dengan setetes sejarah klasik daerah tersebut. Perjalanan saya kesana tidaklah sendirian, namun ada ratusan orang yang juga berada di sana untuk mengikuti ataupun menyaksikan sebuah acara Pelantikan  Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) oleh bupati baru yang menjabat sekarang. 

Harapannya dengan banyaknya stuktur pemerintahan yang menginjakkan kaki dan merasakan bagaimana susahnya perjalanan  untuk sampai disana, akan ada banyak kebijakan-kebijakan baru demi kesejahtaraan masyarakat Umpungeng. Untuknya, marilah kita menjaga kesatuan bangsa ini, jangan biarkan jatuh di tangan asing, karena setiap daerah di Indonesia itu unik, unik karena punya sejarah dan budaya masing-masing. Itulah mengapa hanya di negeri ini yang lain tempatnya lain juga ceritanya.

Bangga Lahir di Indonesia, Bangga jadi warga Indonesia dan Bangga Punya Indonesia.