Sabtu, 08 Oktober 2016

Tulislah Skenario Mimpimu

( Ilustrasi. Foto: Int)
Kata bijak mengatakan, “Jika harapan seluas mata memandang, maka tekad dan usaha haruslah seluas jagat raya”. Namun tahukah kita apa sebenarnya harapan itu dan apa bedanya dengan mimpi. Mari kita kupas secara singkat.

Beberapa pengertian menerjemahkan bahwa mimpi adalah suatu harapan atau angan yang biasa terjadi pada saat kita tertidur dalam arti tidak sadar, juga banyak menyebutnya bunga tidur. Sedangkan harapan itu adalah suatu angan kita secara sadar.

Setiap manusia yang lahir di bumi pasti memiliki mimpi atau harapan yang ingin dicapai, begitupula dengan saya. Mimpi itu biasanya di tulis ataupun cuma ada dalam imajinasi. Namun kita pasti mengetahui jika ingin meraih apa yang kita harapkan tersebut tidaklah selalu mudah, melainkan ada proses yang kadangkalah seperti jalanan yang menanjak ada pula yang seperti jalur pendek dengan penurunan.

Namun sebagai umat Islam haruslah kita percaya pada Al-qur'an dan hadis yang jelas menerangkan, tidak ada hal yang sulit selagi umat itu mau berusaha dan setelah berusaha mereka kembalikan lagi kepada tuhan pencipta, tempat bergantungnya segala mahluk di bumi dan  penentu segalanya.

Saya menulis bukanlah karena pintar atau pun sesuatu yang besar pernah terjadi dalam hidup saya, melainkan saya adalah pemimpi, kita adalah sang pemimpi, dan pencari harapan.

Memang cita-cita, mimpi-mimpi atau harapan semuanya tidaklah mudah, namun  kesemua itu tidak akan dibatasi oleh waktu dan jarak. Artinya jika berusaha pastilah kita akan mendapatkan entah di waktu cepat atau lambat serta biasa di tempat mana saja. Jikalau pun di dunia kita tidak dapatkan maka tuhan juga telah menjanjikan kita akhirat, toh hidup di dunia itu cuma sementara dan akhirat selamanya.

Betul kata pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit”, karena jika cita-cita hanya setinggi langit-langit maka kita mungkin cukup memanjat dinding, cita-cita itupun sudah bisa diraih. Olehnya jika menggantungkannya di langit maka seperti yang saya katakan sebelumnya, jika harapan sejauh mata memandang hingga jauh di langit ke Tujuh maka tekad dan usaha haruslah seluas jagad raya. Artinya jika cita-citamu setinggi langit maka kerja dan motivasi harus lebih keras.

Setiap manusia pasti punya cita-cita atau mimpi terbesar yang harus di wujudkan, yang tentunya tak cuma sekedar ada dalam khayalan. Tapi untuk mendapatkannya ada proses yang harus terealisasikan, proses yang kita lihat, kita raba serta kita rasakan pahit dan manisnya.

Beberapa orang biasanya menuliskan mimpi-mimpinya.Dan tahuka kita, sebahagian orang-orang sukses rupanya menulis mimpi mereka di sebuah buku, mereka mengurutkan mimpi-mimpi itu mulai dari yang pertama ingin mereka capai hingga yang paling besar dalam kehidupan mereka. Sebuah artikel menjelaskan. Jika kita menulis mimpi kita, sebenarnya kita telah membuat perencanaan atau skenario awal untuk apa yang kita ingin capai. Tanpa  kita sadari apa yang di tulis tersebut akan menjadi tugas hidup, sehingga menjadi amanah tersendiri dalam hidup kita. Itu akan sangat memotivasi untuk segera action mencentang mimpi-mimpi itu.

Iwel Sastra dalam bukunya Motivaction, mengibaratkan skenario mimpi yang di tulis layaknya skenario film yang akan dimainkan. Dia menjelaskan bahwa ruh dari sebuah film ada pada skenarionya. Jadi seorang sutradara bebas menulis skenario cerita tanpa batasan. Itulah kekuatan skenario, kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan. Kitapun juga bias menjadi seorang sutradara atau penulis skenario dalam hidup kita, utamanya dalam mimpi-mimpi kita. Tetapi dalam mimpi yang kita tulis, kita adalah pemain, sutradara juga sekaligus produsernya.


Seperti itulah mimpi dan harapan, kita bisa berkhayal seluas mata memandang. Maka tulislah mimpi-mimpimu, karena secara tidak sadar itu adalah bagian dari doa, lebih tepatnya doa yang tertulis. Bukankah manusia adalah perencana tuhan sang penentu? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar