![]() |
| ( Ilustrasi. Foto: Int) |
Kata bijak mengatakan, “Jika
harapan seluas mata memandang, maka tekad dan usaha haruslah seluas jagat raya”.
Namun tahukah kita apa sebenarnya harapan itu dan apa bedanya dengan mimpi. Mari
kita kupas secara singkat.
Beberapa pengertian menerjemahkan bahwa
mimpi adalah suatu harapan atau angan yang biasa terjadi pada saat kita tertidur
dalam arti tidak sadar, juga banyak menyebutnya bunga tidur. Sedangkan harapan
itu adalah suatu angan kita secara sadar.
Setiap manusia yang lahir di bumi pasti
memiliki mimpi atau harapan yang ingin dicapai, begitupula dengan saya. Mimpi itu
biasanya di tulis ataupun cuma ada dalam imajinasi. Namun kita pasti mengetahui
jika ingin meraih apa yang kita harapkan tersebut tidaklah selalu mudah,
melainkan ada proses yang kadangkalah seperti jalanan yang menanjak ada pula
yang seperti jalur pendek dengan penurunan.
Namun sebagai umat Islam haruslah kita
percaya pada Al-qur'an dan hadis yang jelas menerangkan, tidak ada hal yang sulit
selagi umat itu mau berusaha dan setelah berusaha mereka kembalikan lagi kepada
tuhan pencipta, tempat bergantungnya segala mahluk di bumi dan penentu segalanya.
Saya menulis bukanlah karena pintar atau pun
sesuatu yang besar pernah terjadi dalam hidup saya, melainkan saya adalah
pemimpi, kita adalah sang pemimpi, dan pencari harapan.
Memang cita-cita, mimpi-mimpi atau harapan
semuanya tidaklah mudah, namun kesemua
itu tidak akan dibatasi oleh waktu dan jarak. Artinya jika berusaha pastilah
kita akan mendapatkan entah di waktu cepat atau lambat serta biasa di tempat
mana saja. Jikalau pun di dunia kita tidak dapatkan maka tuhan juga telah
menjanjikan kita akhirat, toh hidup di dunia itu cuma sementara dan akhirat
selamanya.
Betul kata pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi
langit”, karena jika cita-cita hanya setinggi langit-langit maka kita
mungkin cukup memanjat dinding, cita-cita itupun sudah bisa diraih. Olehnya jika
menggantungkannya di langit maka seperti yang saya katakan sebelumnya, jika
harapan sejauh mata memandang hingga jauh di langit ke Tujuh maka tekad dan
usaha haruslah seluas jagad raya. Artinya jika cita-citamu setinggi langit maka
kerja dan motivasi harus lebih keras.
Setiap manusia pasti punya cita-cita atau mimpi
terbesar yang harus di wujudkan, yang tentunya tak cuma sekedar ada dalam
khayalan. Tapi untuk mendapatkannya ada proses yang harus terealisasikan,
proses yang kita lihat, kita raba serta kita rasakan pahit dan manisnya.
Beberapa orang biasanya menuliskan
mimpi-mimpinya.Dan tahuka kita, sebahagian orang-orang sukses rupanya menulis mimpi mereka di sebuah buku, mereka mengurutkan mimpi-mimpi
itu mulai dari yang pertama ingin mereka capai hingga yang paling besar
dalam kehidupan mereka. Sebuah artikel menjelaskan. Jika kita menulis mimpi kita, sebenarnya kita telah membuat perencanaan
atau skenario awal untuk apa yang kita ingin capai. Tanpa kita sadari apa yang di tulis tersebut akan
menjadi tugas hidup, sehingga menjadi amanah tersendiri dalam hidup kita. Itu
akan sangat memotivasi untuk segera action mencentang mimpi-mimpi itu.
Iwel Sastra dalam bukunya Motivaction,
mengibaratkan skenario mimpi yang di tulis layaknya skenario film yang akan dimainkan.
Dia menjelaskan bahwa ruh dari sebuah film ada pada skenarionya. Jadi seorang
sutradara bebas menulis skenario cerita tanpa batasan. Itulah kekuatan
skenario, kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan. Kitapun juga bias menjadi
seorang sutradara atau penulis skenario dalam hidup kita, utamanya dalam
mimpi-mimpi kita. Tetapi dalam mimpi yang kita tulis, kita adalah pemain,
sutradara juga sekaligus produsernya.
Seperti itulah mimpi dan harapan, kita bisa
berkhayal seluas mata memandang. Maka tulislah
mimpi-mimpimu, karena secara tidak sadar itu adalah bagian dari doa, lebih
tepatnya doa yang tertulis. Bukankah manusia adalah perencana tuhan sang
penentu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar