Selasa, 31 Januari 2017

Melihat Kekuatan Media Sosial

Hari ini tepat sebulan telah berlalu di tahun Masehi dan awal bagi Ayam Api menurut kepercayaan warga Tionghoa, hal ini rupanya sejalan dengan musim hujan yang baru memasuki babak awal. Hari ini Tanggal 1 Februari 2017, sudah beberapa hari hujan mengguyur kota tempatku berdomisili ini, akibatnya sejumlah jalanan protokol selalu tergenang oleh luapan air selokan yang diperparah dengan kurang baiknya sistem aliran air menuju tempat resapan. 

Tak hanya itu, rupanya genangan air juga banyak melanda pemukiman warga, utamanya di daerah-daerah padat penduduk, terlebih jika lantai dasar rumah-rumah itu lebih rendah dibandingkan jalanan yang sekarang sudah banyak berbahan beton. Bahkan, di beberapa daerah tetangga seperti Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Gowa wilayahnya banyak terkena Puting Beliung, menurut laporan media puluhan rumah warga rusak akibat terjangannya. 

Namun di salah satu rumah di Jalan Faisal, kota Makassar. Rumah tersebut di kabarkan dihuni oleh sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, sang suami rupanya telah lama terbaring sakit sehingga sang istri lah yang harus bekerja mencari nafkah. Dalam keterbatasan membuat keduanya tak mampu berbuat apa-apa ketika musim hujan, rumah yang jauh dari kata layak huni itu diperparah oleh lantai rumah yang hanya terbuat dari kayu.

Kondisi rumah di Jalan Faisal Kota Makassar. sumber: Int 
Berada di antara bangunan beton yang tinggi, rumah kakek dan nenek tersebut tiap tahunnya semakin rendah sehingga kala musim hujan bak rumah apung dengan tanaman mirip eceng gondok yang mengelilinginya. 

Hal inilah yang mungkin dilihat dari mata pengguna seorang media sosial yang tiba-tiba mengunggah foto-foto tentang kondisi tersebut dilengkapi caption atau keterangan keadaan rumah serta uluran tangan dari dermawan yang berniat membantu. Dalam sekejap berita tersebut mendapat ribuan respon dari para netizen dengan komentar bermacam-macam hingga berita tersebut di bagikan ke media sosial lainnya. Ada yang mengaku dari LSM ada juga yang perseorangan terlihat memenuhi kolom komentar untuk mengajak bersama-sama mengunjungi rumah itu dengan membawa bantuan, Baik berupa sembako, bahan bangunan dan obat-obatan. 

Hanya tepat sehari setelah itu, dikabarkan telah banyak orang yang mendatangi si kakek dan nenek untuk memberi bantuan dan rupanya kabar tersebut juga telah sampai di Dinas sosial yang juga turut datang melihat kondisi tersebut. Terlihat pula dari beberapa foto-foto yang beredar sejumlah awak media ternama turut mengabadikan. 

Melihat kondisi ini saya sedikit tercengang, terlebih ketika saya melihat respon teman-teman sesama mahasiswa yang juga membantu dengan membuka rekening donasi. 

Di sinilah sebenarnya kita sadar akan kekuatan Sosial Media dan betapa besarnya dampak positif terlebih jika kita pengguna yang baik. Dalam hitungan jam bantuan sudah mengalir dari ribuan pasang mata yang menyaksikan hal itu, dan saya juga yakin bahwa bukan hanya bantuan materi dan tenaga pada saat itu, namun juga ada banyak yang mendoakan didalam kebaikan. 

Itulah kekuatan media sosial, ratusan orang belum tentu mengetahui sesuatu dalam sekejap jika hanya berpindah dari mulut ke mulut, ratusan orang belum tentu prihatin akan kondisi tersebut jika tidak ada ratusan orang yang berlomba mengungkapkan keprihatinan, dan segelintir orang belum tentu menolong jika tidak ada satu orang yang memulai. LSM, lurah, Camat dan Walikota hingga Gubernur mungkin tak akan bisa mengetahui semua kondisi warganya jika tidak ada satu orang yang menyebarkan ke orang lainnya. 

Kepedulian kita tidak hanya dinilai dari bantuan materi dan tenaga, tetapi bisa dengan mengajak orang mampu untuk memberi bantuan baik di sosial media maupun cara-cara lain.

Berikut beberapa foto sehari setelahnya. (Sumber: Makassar Info)


Lihat Juga : http://www.kompasiana.com/jallashari/melihat-kekuatan-media-sosial_589149432423bd1d115da8d5

Kamis, 12 Januari 2017

Jangan Paksakan

Jangan paksakan perasaan ini untuk pergi dan seketika melupakan segalanya, karena rasa itu anugerah dan pemiliknya adalah hati, bukan batu yang tanpa perasan walau di pecah berkeping-keping.

Juga jangan berpura-pura melupakan apalagi memaksakan karena setelahnya masih ada pertemanan yang lebih baik dari dari pada saling lupa.

Dan juga jangan merasa di atas jika keputusan terakhirmu adalah pergi. Karena kamu bukan yang pertama dan masih banyak hati yang luas di luar sana untuk aku bangunkan rumah untuknya.

Selasa, 03 Januari 2017

Menulis Blog Ala Kompasiana

Di pagi tanggal 15 November 2016, sekitar pukul 08:00 WITA, antrian terlihat mulai memadati halaman Auditorium Amanagappa Universitas Negeri Makassar (UNM). Terlihat pula jejeran mobil-mobil dari beberapa Bank milik pemerintah, lengkap dengan wanita-wanita cantik yang terlihat ramah kepada setiap pengunjung.

Kegiatan Bank Indonesia Goes to Campus bersama Net TV hari itu guna mensosialisasikan program BI, yaitu GNNT atau (Gerakan Nasional Non Tunai) yang kemudian di konvergensi dengan kegiatan lain seperti workshop penulisan blog dan video serta pelatihan Citizen Journalism kepada 2000 lebih peserta yang berasal dari berbagai kampus di Kota Makassar.

Kegiatan ini berlangsung pada bulan November lalu, tapi tak ada salahnya saya berbagi tentang hal apa yang saya dapat pada kegiatan akbar tersebut.

Kali ini saya hanya akan terfokus pada Workshop penulisan blog yang di bawakan oleh seorang blogger yang kerap disapa Bang Isjet alias Iskandar Zulkarnaen, yang juga sekaligus Asisten Manager Kompasiana. Ini merupaka kali kedua saya mengikuti workshop beliau di kampus yang sama pada bulan Mei lalu. Dan pada kesempatan tersebut, bang Isjet yang juga praktisi media ntersebut akan membagikan tips menulis ala www.kompasiana.com

Menurutnya, di dalam menulis seorang penulis harus mampu melakukan Tell then your story, yang berarti memberikan pengetahuan baru kepada pembaca melalui tulisan yang dibuat, setelah itu agar tulisan kita mudah di terima orang lain baiknya tulisan itu berupa fakta yang di dalamnya mengandung unsur 5W + 1H lalu disajikan secara menarik dengan menggunakan bahasa yang mudah orang paham. Karena menurutnya tulisan yang kita publish itu adalah untuk orang lain.

Selanjutnya, Ketika seorang penulis sudah paham beberapa kaidah di atas, maka mulailah proses menulis dilakukan. Agar tulisan itu lebih terstruktur alangkah baiknya dimulai dengan sebuah judul.

Kebanyakan orang akan kesusahan dalam menentukan judul dan memilih menulis dahulu baru kemudian menentukan judul. Cara seperti ini dianggap tidak sistematis dan efektif. Karena bisa jadi tulisan kita akan banyak melenceng dari judulnya alias nyeleneh katanya

Mengapa Judul Penting? Menurut Bang Isjet cara baca setiap orang sangatlah berbeda, olehnya judul harus menarik agar membuat setiap pembaca merasa penasaran untuk terjun ke tulisan di bawahnya.

Tapi kadang setelah judul ada, kebanyakan masih kebingungan untuk memulai menulis apa di paragraf pertama, nah tips kali ini, katanya tulisan akan tetap menarik meskipun judul belum di hadirkan pada bagian awal cerita, asal si penulis mampu menentukan bagian utama yang paling memungkinkan orang berpendapat atau bertanya-tanya. Biasanya untuk menjadi menarik, tulisan di mulai dengan sebuah anekdot lalu beralih ke pokok. Setelah itu dilanjutkan ke paragraf berikutnya dengan mengikutkan unsur 5W + 1H agar mempunyai nilai kepercayaan.

Kegiatan hari itu sangat menuai antusias mahasiswa terlebih di akhir acara juga di hibur oleh artis nasional dan stand up comedy.