Melalui seminar Hari Pangan Dunia yang
jatuh pada tanggal 16 Oktober dan Hari Air yang diselenggarakan oleh
Perkumpulan Katalis Indonesia, sebuah pengetahuan baru kemudian saya dapatkan
yang seakan membuka cakrawala berpikir baru.
Diskusi Publik berlangsung selama
Dua jam tersebut cukup menarik dengan konsep diskusi yang santai, dengan
mengambil subtopik ‘Ketahanan Pangan
Yang Berkelanjutan’.
Dangkal pengetahuan awal tentang
ketahanan pangan, membuat saya bertanya-tanya, Apa perlunya ketahanan pangan?
Saya pun Bagaikan mesin pencari google
yang ditempatkan di jaringan wifi super
kencang alias begitu bersemangat menemukan informasi baru. Betul juga, kala itu sebelum seminar
dimulai saya terlebih dahulu membuka mesin pencari google, dan terbitlah sebuah
artikel awal dari Wikipedia, menjelaskan ketahanan pangan merupakan
ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya.
Kedua pemateri bergantian membahas dua
pokok bahasan yaitu air dan pangan dalam makalah yang dibagikan kepada peserta
diskusi kala itu. sesekali saya termenung, namun tak jarang menggelengkan kepala
tatkala fenomena-fenomena negatif yang tidak kita sadari ternyata ada di dalam
kehidupan sehari-hari.
Pemateri betul-betul mengupas
secara umum kondisi ketahanan pangan di negeri ini mulai dari level nasional
hingga skala pedesaan, hingga mengalir
ke dampak yang di timbulkan. Di situlah kemudian saya memahami
perlunya usaha mempertahankan kebutuhan pangan, baik dalam skala rumah tangga
hingga nasional. Meski kita melihat setiap harinya berbagai macam bahan makanan
maupun produk olahan pangan tersedia di pasar-pasar tradisional dan
supermarket, tapi ternyata masih perlu usaha ekstra untuk menjaga ketersedian.
Olehnya melalui sekitar beberapa tahun
lalu dibentuklah Badan Ketahanan Pangan Republik Indonesia di bawah Kementrian
Pertanian RI.
Setidaknya ada beberapa pesan yang
saya dapat:
Pertama: kita semua harus tau, bumi ini
pernah mengalami krisis pangan luar biasa besar, namun Indonesia bebas dari itu.
karena kenapa? Karena Cuma di negara ini walau tidak ada si 4 sehat 5 sempurna,
warga negara kita tetap bisa hidup sehat berkat adanya makanan-makanan tradisional
yang gizinya cukup walau tidak masuk kedalam bahan pangan yang pokok. Seperti
makanan khas bugis Kapurung, Barobbo atau bubur jagung dan ribuan makanan daerah lainnya.
Kedua: Produksi pangan tiap tahunnya
rupanya mampu melebihi kebutuhan pangan 240 juta jiwa penduduk Indonesia.
Namun, tahukah kita bahwa besarnya produksi pangan ini ternyata masih membuat
negara kita harus merogoh devisa negara untuk impor beras dan pangan lainnya
dari negara tetangga. Kenapa? Menurut pemateri dari sekian banyak produksi pangan utamanya
beras di Indonesia nyatanya tak sepenuhnya menjadi milik negara atau dibeli
negara untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduknya, disinyalir ini
terjadi karena sebagian besar produk pangan justru jatuh di tangan para
pedagang lokal yang membeli dari petani dengan harga mahal, hal inilah kemudian
menimbulkan kesenjangan ekonomi yang mengharuskan petani lebih memilih menjual
hasil pertaniannya dari pada menjual ke pemerintah yang nyatanya membeli dengan
harga murah.
Ketiga: Meski kita ketahui lahan produksi
pangan luas, nyatanya sudah tidak demikian. Karena banyaknya alih fungsi lahan
pertanian yang tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Jika dibiarkan
lama-kelamaan negara ini akan semakin dimiskinkan oleh kegiatan impor pangan
saja.
Keempat: Indonesia adalah negara maritim yang
notabene memiliki hasil laut berupa ikan yang sangat berlimpah sebagai cadangan
pangan terbesar kita.
Kelima: Katanya kita harus senantiasa belajar dan
terus belajar, beranilah untuk tidak mencari kerja tapi berusaha membuka
lapangan pekerjaan bagi orang lain.



