Jumat 28 Oktober 2016 sebuah
perjalanan di Peringatan Hari Sumpah Pemuda kembali mengingatkan diriku pada
kerinduan tanah kelahiran. Tak sendiri, kali ini terasa berbeda dengan edisi
sebelum-sebelumnya, berkat kehadiran dua teman yang sudah sedari dulu selalu ingin
menginjakkan kakinya di Bumi Panrita Kitta, Kabupaten Sinjai.
Tepat jam 14:00 WITA, tiga motor
Jenis Bebek berjalan menembus hujan menuju arah Kabupaten Gowa. Perjalanan
pulang kali ini saya memilih jalur Malino untuk tembus ke Sinjai.
Perlahan hujan yang mengguyur
perjalanan kami seakan memperbesar frekwensinya, alhasil kami pun tak dapat
menambah tarikan gas namun mengencangkan balutan jas hujan di tubuh.
Satu jam lebih berlalu, kami sampai
di Objek Wisata Hutan Pinus Malino, cuaca berbeda kami rasakan karena hujan telah reda. Yang ada adalah paparan sinar matahari, tapi tak mampu mengalahkan suhu dingin dan
kesejukan hutan Pinus di area tersebut.
Rehat sejenak, perjalanan kembali
dilanjutkan. Kali ini melewati lembah menanjak dengan sisi jalan bertepikan
pohon-pohon Pinus yang lebat, setelahnya pemukiman penduduk yang sudah meramai.
Para petani sayur berjalan beriringan, entah itu beranjak ke kebun ataukah kembali
dari kebunnya. Juga terdapat banyak mobil-mobil yang sudah penuh karung-karung. Disinilah asal bahan-bahan
sayuran yang kemudian di jual keberbagai daerah yang ada di Sulawasi Selatan,
terlihat banyaknya lahan yang mirip area persawahan, namun yang di tanam adalah
jenis sawi, kol, tomat, aneka bawang dan juga buah-buahan.
Lanjut cerita, jalur Gowa-Sinjai
ini kian mendapat perhatian pemerintah di kedua wilayah tersebut, salah satunya
perbaikan jalur yang relatif pendek di daerah perbatasan kedua daerah. Perjalanan
kami pun semakin dipersingkat dengan adanya jalur alternatif ini.
Di tengah perjalanan, sesekali
mata ini tak sanggup berkedip menyaksikan dari kejauhan gumpalan kabut berwarna putih perlahan menyelimuti pepohonan dan tampak menutupi rumah-rumah penduduk. Rasanya
ingin segera menghampirinya. Dalam benak Sungguh Indah dan sepatutnya rasa
syukur atas ciptaan Yang Maha Kuasa.
Tak lama kemudian jarak pandang
kedepan menjadi kabur, perlahan semakin kabur. Hanya kisaran 3-5 meter saja. Melihatnya
begitu halus, warnanya putih, dan tak ada kepulan pekat seperti asap biasanya.
Suhu dingin yang diberikan seakan menyentuh kehidupan-kehidupan di dalamnya. pepohonan, burung-burung, hingga rerumputan seakan semuanya merasakan kesejukan yang di berikan Si kabut-kabut putih. begitu aku menyebutnya.
Kejadian seperti ini biasanya
tak berlangsung lama, hanya hitungan menit kabut-kabut putih itu mulai beranjak
naik atau bergeser oleh hembusan angin. Namun kami tak mau melewatkan momen ini,
sesekali kami berhenti untuk mengambil potret.
Berfoto bersama atau hanya
mengambil gambar pemandangan saja berulang kali kami lakukan. 5-10 jepretan
rasanya tak cukup untuk momen menarik itu. kami pun melepas kelengkapan
berkendara seperti jaket dan helm untuk sejenak menyaksikan si kabut-kabut
putih datang dan pergi menutupi lereng-lereng pegunungan. Pemandangan indah ini
rupanya juga membuat pemudik-pemudik lainnya yang juga satu tujuan ikut rehat
sejenak, sembari menikmati kesejukan.
Tak hanya itu, jika musim penghujan
tiba. Jalur ini juga memiliki banyak air terjun di pinggir jalan yang juga tak
kalah indahnya. Tetapi biasanya air yang
jatuh dari tebing-tebing tersebut baru akan deras dan besar selepas hujan.
Tak lama, perjalanan kami
lanjutkan hingga tiba di tempat tujuan dengan selamat, tepatnya di Kecamatan Sinjai
Selatan Kabupaten Sinjai. Tanah yang selalu mengingatkan kerinduan kepada para
perantau-perantau yang lahir di atasnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar