Rabu, 02 November 2016

Mengapa Perlu Ketahanan Pangan?

Melalui seminar Hari Pangan Dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober dan Hari Air yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Katalis Indonesia, sebuah pengetahuan baru kemudian saya dapatkan yang seakan membuka cakrawala berpikir baru.

Diskusi Publik berlangsung selama Dua jam tersebut cukup menarik dengan konsep diskusi yang santai, dengan mengambil subtopik ‘Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan’.

Dangkal pengetahuan awal tentang ketahanan pangan, membuat saya bertanya-tanya,  Apa perlunya ketahanan pangan?

Saya pun Bagaikan mesin pencari google yang ditempatkan di jaringan wifi super kencang alias begitu bersemangat menemukan informasi baru. Betul juga, kala itu sebelum seminar dimulai saya terlebih dahulu membuka mesin pencari google, dan terbitlah sebuah artikel awal dari Wikipedia, menjelaskan ketahanan pangan merupakan ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya.
Kedua pemateri bergantian membahas dua pokok bahasan yaitu air dan pangan dalam makalah yang dibagikan kepada peserta diskusi kala itu. sesekali saya termenung, namun tak jarang menggelengkan kepala tatkala fenomena-fenomena negatif yang tidak kita sadari ternyata ada di dalam kehidupan sehari-hari.

Pemateri betul-betul mengupas secara umum kondisi ketahanan pangan di negeri ini mulai dari level nasional hingga skala pedesaan, hingga mengalir  ke dampak yang di timbulkan. Di situlah kemudian saya memahami perlunya usaha mempertahankan kebutuhan pangan, baik dalam skala rumah tangga hingga nasional. Meski kita melihat setiap harinya berbagai macam bahan makanan maupun produk olahan pangan tersedia di pasar-pasar tradisional dan supermarket, tapi ternyata masih perlu usaha ekstra untuk menjaga ketersedian.  Olehnya melalui sekitar beberapa tahun lalu dibentuklah Badan Ketahanan Pangan Republik Indonesia di bawah Kementrian Pertanian RI.
Setidaknya ada beberapa pesan yang saya dapat:

Pertama: kita semua harus tau, bumi ini pernah mengalami krisis pangan luar biasa besar, namun Indonesia bebas dari itu. karena kenapa? Karena Cuma di negara ini walau tidak ada si 4 sehat 5 sempurna, warga negara kita tetap bisa hidup sehat berkat adanya makanan-makanan tradisional yang gizinya cukup walau tidak masuk kedalam bahan pangan yang pokok. Seperti makanan khas bugis Kapurung, Barobbo atau bubur jagung dan ribuan makanan daerah lainnya.

Kedua: Produksi pangan tiap tahunnya rupanya mampu melebihi kebutuhan pangan 240 juta jiwa penduduk Indonesia. Namun, tahukah kita bahwa besarnya produksi pangan ini ternyata masih membuat negara kita harus merogoh devisa negara untuk impor beras dan pangan lainnya dari negara tetangga. Kenapa? Menurut pemateri  dari sekian banyak produksi pangan utamanya beras di Indonesia nyatanya tak sepenuhnya menjadi milik negara atau dibeli negara untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduknya, disinyalir ini terjadi karena sebagian besar produk pangan justru jatuh di tangan para pedagang lokal yang membeli dari petani dengan harga mahal, hal inilah kemudian menimbulkan kesenjangan ekonomi yang mengharuskan petani lebih memilih menjual hasil pertaniannya dari pada menjual ke pemerintah yang nyatanya membeli dengan harga murah.

Ketiga: Meski kita ketahui lahan produksi pangan luas, nyatanya sudah tidak demikian. Karena banyaknya alih fungsi lahan pertanian yang tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Jika dibiarkan lama-kelamaan negara ini akan semakin dimiskinkan oleh kegiatan impor pangan saja.

Keempat: Indonesia adalah negara maritim yang notabene memiliki hasil laut berupa ikan yang sangat berlimpah sebagai cadangan pangan terbesar kita.

Kelima: Katanya kita harus senantiasa belajar dan terus belajar, beranilah untuk tidak mencari kerja tapi berusaha membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar