 |
| ( Budaya. Foto: Int) |
Perkembangan di Era global saat
sekarang nampaknya tak hanya di gebu-gebukan oleh perkemangan Sains dan Teknologi.
Namun, hampir seluruh aspek kehidupan lainnya turut andil, berlomba-lomba
menuju barisan depan, terlebih sejak era pasar bebas kian diterapkan berbagai
belahan dunia. Salah satunya tren Fashion, fashion saat sekarang ini telah
menjadi telah menjadui budaya massal oleh para penggila di zaman serba modern
ini. Bukan lagi hal yang tabu, apalagi menjadi rahasia umum. Tren Fashion
sekarang menjadi milik semua orang, semua orang bebas mengekspresikan diri dan
jiwanya lewat tren Fashion perlu takut terjerat pasal.
Di awal abad 21 sekarang ini.
Berbagai istilah pun bermunculan untuk mendukung laju perkembangan bebas
tersebut. Di Indonesia sendiri munculah kata-kata “Kekinian”. Kata-kata
demikian kian populer saat sejumlah kaum muda menggunakannnya untuk mewakili
keadaan yang baru dialami atau digunakan. Jika di dilihat lebih dalam di Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kekinian berasal dari induk kata ´kini´ yang
berarti pada waktu ini, kemudian mendapat imbuhan (ke-) dan (-an) menjadi
kekinian yang berarti keadaan kini atau sekarang. Olehnya jika di hubungkan
dengan prilaku manusia berarti tren kekinian adalah keadaan yang mengikuti
perubahan jaman. Baik dari segi fashion, teknologi maupun kebiasan sehari-hari.
Menurut data yang di himpun oleh
Unicef dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi, memperlihatkan bahwa dari 75
juta pengguna internet di Indonesia tak kurang dari 30 Juta diantaranya adalah
pengguna remaja, itu berarti hamper setengahnya komsumsi internet di kuasai
oleh kaum tersebut.
Ini memberi gambaran bahwa salah
satu pemicu utama berkembangya tren kekiniann adalah dengan adanya akses
internet. Namun juga pengaruh media peetelevisian tak juga dapat di
kesampingkan.
Bebasnya akses untuk melihat dunia
luar, tentu bukan lagi hal yang jamak jika akan ada dampak negative yang ditimbulkan.
Nampaknya budaya kekinia rupanya sejalan dengan perkembangan informasi Yang
sangat cepat. Olehnya tak bias di pungkiri, budaya barat atau asing sangat
cepat merambah di kalangan pengguna internet di Indonesia, sebagai negara
dengan penganut muslim terbesar di dunia, tentunya budaya barat ini tak sejalan
dengan harapan segenap bangsa. Namun apa daya kecanggihan internet nampaknya
membunuh harapan itu. bahkan di Indonesia ini telah banyak ketakutan terhadap
budaya Westernisasi, atau bentuk pemujaan terhadap budaya baratyang berlebihan
Seperti yang saya kutip dari salah
satu ceramah seorang ustas mengatakan, “pakaian generasi mudah seakarang ini
semakin memprihatinkan, kain baju yang menutupi bagian tubuh atas semakin
turun, sedangkan yang menutupi bagian tubuh paling bawah semakin di naikkan”.
Memang tidak salah tetapi mungkin itu hanya berlaku bagi kaum perempuan. Untuk laki-laki
sendiri, saya pernah membaca sebuah artikel, bahwa saat sekarang ini nampaknya
kaum laki-laki tak banyak mengalami perubahan dalam penampilannya. Masi dengan
gaya rambut yang rapi, apalagi semenjak mewabahnya tren barber Shop, yang semakin memanjakan penampilan rambut para kaum
lelaki menjadi tampak rapi dan elegant.
Anehnya, di kalangan beberapa
golongan masyarakat, justru jika tidak mengikuti tren fashion yang kebanyakan
berkiblat ke barat, malah di sebut ketinggalan jaman dan dan tidak mengikuti
berkembangan zaman. Nah inilah paham yang menurut saya salah, “jika harus berkembang masa kita harus
mengikuti gaya barat, sementara perkembangan dunia dan teknologi tidak hanya
berkembang di barat, di Indonesia pun juga turut berkembang. Jadi so….? What is
your choice.”
Setiap promosi iklan pariwisata,
selalu digebu-gebukan istilah “Indonesia Kaya Akan Budayanya”. Iya memang benar adanya…
Setidaknya lebih dari 20 puluh suku
di Indonesia serta lebih dari 100 kebudaya yang terbentang dari sabang sampai
Merauke. Tetapi yang menjadi permasalahan dan sangat disayangkan, seiring
dengan perkembangya zaman, banyak budaya mulai dilupakan. Banyak dari warga Indonesia
yang menurut dirinya hidup di zaman modern tak lagi mengenal budayanya. Sehingga
tak di pungkiri jika banyak budaya kita di curi oleh negara lain, utamanya
negara-negara tetangga.
Sementara di lain sisi, kasus yang
kontroversial pun terjadi ketika salah satu rombongan Jamaah Haji dari salah
satu kabupaten di Sulawasi Selatan, Kabupaten Sidenreng Rappang, merayakan
kepulangannya dari Baitullah dengan mengenakan pakaian yang menurut sebagian
orang adalah sesuatu yang lucu dan bahkan menjadi bahan cemohan dan tawaan bagi
para netizen. Hal ini kemudian sangat menjadi Viral ketika banyak media
memberitakan hal tersebut. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pakaian
tersebut jika di hubungkan dengan tuntutan berpakaian yang islami, pakaiannya
tertutup dan juga telah menjadi budaya leluhur atau chiri khas daerah tersebut.
Ini adalah persoalan budaya dan tradisi, bukanka
dengan menghargai budaya bangsa itu akan semakin maju?
Syahdan pakaian tersebut memang
telah disiapkan sebelum pemberangkatan ke tanah suci, namun baru akan dikenakan
setelah tiba kembali di tanah air. Pakaian yang mereka kenakan merupakan salah
satu chiri pakaian adatb Bugis yang biasa di sebut talulung dan Sarampa.
Tamu-tamu mulia Allah ini saya rasa
tak punya niat lain kecuali hanya untuk meluapkan kegembiraan mereka selepas
berhaji dan kembali selamat ke tanah air. Tapi yang terjadi malah sebaliknya,
di saat mereka menyambut kegembiraan itu, justru kekejaman social media yang
membebaskan untuk berkomentar apapun, justru mengakimi mereka dengan cemohan. “Terlalu berlebihan, Ledasyeng…elo maneng yaseng..
pake maneng ulawemmu..norak…” komentar salah satu netizen yang mengomentari
dalam bahasa Bugis yang menurutnya hanya ingin pamer dan norak. Komentar lain
juga mengatakan itu hanya seperti orang gila, “gilani koyok opo aenotak bgt
kayak wong edan ayarang bukane cantic mlh
kyk orang gila,” kata Netizen lain. Namuntaka sedikit yang membelah seperti
komentar ini, “Tdk baik menghina seperti
itu. mereka2 hanya ikut tradisi aja turun temurun. Tugas andalah yang mengerti
dan menjelaskan tuntunan sebenarnya.”
Jika nilai budaya saja telah di
celah maka kemana lagi bangsa ini mencari kekayaan kedepannya, jika budaya
sudah ditinggalkan maka siapa lagi yang akan membuktikan jika negara ini adalah
kaya dengan budayanya. Pantaslah budaya kita seringkali di klaim negara lain
karena pengahargaan di negara sendiri sudah berkurang.